Saturday, July 16, 2011

Cerita Inspiratif - Yang Terbaik

Sudah menjadi hal yang umum, jika ada frasa atau ungkapan 'yang terbaik' maka itu diartikan menjadi yang terbaik dalam pengertian lewat atau untuk mengalahkan orang lain.
 
Beberapa hari yang lalu saya ikut serta dan sebagian menjadi penonton dan penikmat beberapa perlombaan, hiburan, dan sebagian besar saya anggap sebagai kegembiraan. Beberapa perlombaan itu adalah sepakbola, paduan suara, dan tari poco-poco.
 
Ketiga perlombaan ini adalah permainan tim atau hal yang dilakukan secara bersama-sama, tentu dengan kekuatan dan kekhasan individu-individu masing-masing.
 
Terjadi hal-hal yang menarik di sekitar lomba-lomba ini. Ketiga lomba ini, boleh disebut agak berbeda-beda tingkat kesulitannya, dalam hubungannya dengan nilai atau penilaian tampilan.
 
Pertandingan sepakbola dipimpin oleh wasit, tapi hasil sangat nyata saat pertandingan yang ditampilkan para pemain. Wasit hanya memandu agar permain sesuai aturan atau agar permainan berlangsung sesuai peraturan itu. Atau wasit mengarahkan agar permainan berlangsung bukan atas keinginan satu tim.
 
Paduan suara, berbeda dari sepakbola, akan dinilai oleh biasanya tiga orang juri. Jadi penilaian berdasarkan pandangan para juri ini, yang tentu mungkin ada semacam panduan atau kriteria-kriteria yang sudah ditentukan. Tapi tetap saja, penilaian ini berdasarkan 'selera' atau persepsi para juri.
 
'Selera' atau persepsi para juri di sini menjadi menarik, karena 'selera' dan persepsi ini sangat banyak hal-hal yang menentukan yang membentuk persepsi mereka. Apa yang dimaksud dengan penguasaan panggung? Apa yang dimaksud dengan penghayatan lagu? Apakah lagu yang sama harus dihayati dengan cara yang sama oleh semua orang?
 
Apakah kalau lagunya cadas (rock) maka penyanyinya harus meloncat-loncat dan berteriak-teriak? Apakah kalau lagunya tenang dan syahdu, penyanyi tidak tepat kalau duduk atau berdiri saja, tanpa gerakan melangkah bahkah tanpa gerakan tangan yang melambai-lambai?
 
Selain hal yang harus ada – fairness dan integritas – maka, untuk membentuk persepsi, siapa pun membutuhkan pengetahuan. Dan untuk menilai penghayatan bagi seseorang, orang lain tidak akan bisa mengukurnya dengan tepat. Karena penghayatan adalah personal. Siapa yang bisa mengukur dengan tepat penghayatan seseorang akan sebuah lagu?
 
Tarian poco-poco lebih menarik diperhatikan daripada sepakbola atau paduan suara. Jika sepakbola para pemainnya bisa saling menggantikan, yang jelas, pemain di lapangan tidak melebihi jumlah maksimal yang ditentukan. Tapi paduan suara jika pesertanya berkurang, maka peserta nyanyi berkurang maka hanya mengurangi kekuatannya. Tapi jika peserta tarian poco-poco misalnya berkurang, maka berkurangnya satu atau dua orang akan 'mengacaukan' keseluruhan tarian. Mengapa? Karena tarian adalah satu secara keseluruhan, karena menyangkut semua urut-urutan gerak dan gaya dan pola tapi terutama menyangkut formasi posisi para penari.
 
Lebih daripada semua hasil dari usaha kebersamaan ini, ada yang lagi yang begitu penting yang sering terlupakan atau terabaikan: yakni mengenai apa yang diperoleh dari itu semua.
 
Hampir semua peserta, barangkali menginginkan juara – tepatnya juara satu. Tapi di saat bersamaan, juga lupa bahwa yang menjadi juara satu hanya satu tim. Maka sebenarnya, setiap peserta harus siap untuk menjadi juara dua bahkan tidak menjadi juara.
 
Yang lebih penting tadi – apa yang diperoleh dari aksi itu – adalah akan menjadi bagaimana selama dan setelah kegiatan itu daripada hasil berupa trofi atau pengumuman juara.
 
Ketika peluit ditiup pertanda berakhir atau ketika juri mengumumkan hasil, maka dari pengalaman, bukan hasil itu yang paling dikenang atau diingat atau menjadi pelajaran yang paling penting, tapi proses dan segala yang terjadi selama latihan atau selama perlombaan.
 
Ketika latihan-latihan yang berulang-ulang dan biasanya mengalami perbaikan tahap demi tahap, maka saat-saat itulah yang membentuk diri peserta. Bagaimana menjaga kata-kata ketika seorang rekan tidak sama gerakannya. Bagaimana menunggu rekan yang datang terlambat. Bagaimana mendengarkan rekan yang terkadang perkataannya, mungkin menyakitkan hati bagi rekan lainnya. Bagaimana menjaga agar keakraban tidak berhenti atau buyar saat seseorang mengundurkan diri, umpamanya.
 
Ketika ini terus-menerus dihayati, maka saat-saat itulah sebenarnya inti dari segala yang berbentuk kerjasama tim. Apa yang terjadi selama latihan itu sangat membentuk diri masing-masing, dan ada lagi yang sangat penting di sana: Saat-saat itulah kita mengenal rekan kita dengan lebih baik.
 
Kalau ini selalu menjadi penghayatan, maka setiap peserta akan dengan terbuka untuk menerima kelemahan atau kekurangan rekan. Sering diungkapkan bahwa pada untaian rantai, maka pada mata rantai yang paling lemahlah terletak batas kekuatan untaian rantai itu.
 
Jika mengingat ini, maka apa yang bisa diperbuat maksimal bukanlah mengalahkan atau mengungguli tim atau orang lain, tapi menampilkan atau menghasilkan yang terbaik yang bisa dilakukan. Karena bagaimana pun dalam dunia manusia ini tidak semua bisa menjadi yang tercepat, terkuat, terjauh, terbaik, kalau dibandingkan dengan yang lain. Selalu ada batas di mana seseorang tidak bisa mengungguli yang lain.  Bagaimana pun tidak bisa semua orang menciptakan rekor lari sprint jarak 100 meter. Tapi setiap orang akan bisa mencapai waktu tercepat lari 100 meter bagi masing-masing. Bagaimana pun kita semua tidak bisa mengungguli Sarah Brightman, Chloë Agnew, Katherine Jenkins, Hayley Westenra atau Russell Watson, Andrea Bocelli, dalam hal merdunya suara, tapi kita semua bisa menyanyi mengeluarkan yang terbaik dari diri kita.
 
Jika kita sudah melakukan yang terbaik dari diri kita, maka kita pun akan bisa menerima kekuatan dan kelemahan kita, dan sekaligus juga bisa menerima dan mengapresiasi kekuatan dan kelebihan orang atau tim lain. Dan sangat mungkin, pemahaman dan penghayatan ini jauh lebih penting daripada hanya mengejar juara. Pertanyaan penting: apakah kita sudah mengeluarkan yang terbaik itu?
 
 
"Makna dari sesuatu hal tidak terdapat di dalam hal tersebut,
tetapi dalam sikap kita terhadap hal tersebut."
 
 ~ Antoine de Saint-Exupery, penyair Prancis
 
 
Ditulis oleh Frans Nadaek
 
 
NB: Copy atau share harap sertakan nama penulis dan sumbernya ya. Terima kasih

Tuesday, July 12, 2011

Cerita Inspirasi - Mengenal dan Di Kenal Allah

Ilustrasi..........,,,,
Seorang pemuda membaca di surat kabar tentang rencana perayaan Ulang tahun Walikota yang diadakan di Hotel mewah. Pemuda ini merecanakan untuk menghadirinya. Dan tiba pada hari H nya pemuda ini datang dengan pakain yang rapi dan membawa bingkisan hadiah yang indah. Namun di pintu masuk dia di cegat oleh petugas keamanan yang menanyakan surat undangan khusus karena tidak semua orang yang di undang. Lalu pemuda ini berkata "saya membaca pengumuman di koran", hal itu tidak berarti anda di undang ke pesta ulang tahun itu, kata sang petugas ke amanan, hanya kenalan - kenalan Pak Walikota yang menerima undangan khusus yang di izinkan "masuk" lanjut sang petugas lagi. Tetapi saya mengenal Pak Walikota kok, sahut Pemuda itu kepada petugas keamanan. "O ya??? Dari mana Anda mengenalnya??? tanya petugas sambil tersenyum" :), jawab pemuda itu "saya melihat penampilannya di TV, membaca komentarnya di Surat Kabar, saya tahu dimana kantornya dan saya juga tahu apa Hobby nya". Ehmmmmm..., jadi anda mengaku kenal dengan pribadi Walikota?? kata petugas tanya petugas lebih lanjut. Pemuda tersebut  tersipu malu dan ia mnejawab " Wahhh.., apakah Pak Walikota juga mengenal saya ya???" lalu pemuda itu permisi pulang.
Ilustrasi di atas merupakan satu gambaran pada hari kiamat nanti. Banyak orang berseru kapada Tuhan dan mengaku mengenal Nya, namun dari pihak Tuhan ternyata mereka tidak di kenal. Tuhan Yesus berkata: "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama Mu, dan mengusir setan demi nama MU, dan mengadakan mujizat demi nama Mu juga? pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! enyahlah dari pada KU kamu sekalian pembuat kejahatan.               (Mat 7: 22- 23).
Jelaslah bahwa mengaku mengenal Tuhan belum tentu di kenal Tuhan. Pengenalan sejati sesungguhnya menuntut Relasi, Interaksi, dan Komunikasi dua arah secara terus menerus. Dengan cara menyediakan waktu teduh atau saat teduh setiap hari. Sudahkah anda mempunyai waktu teduh setiap hari?? :)
 
Tuhan Yesus memberkati......,
 
 
 
 
 
 


Inspirasi - Nilai Sebuah Kepercayaan


Dikisahkan, ada seorang pemuda yang dulunya hanya seorang office boy di sebuah perusahaan Jepang, tetapi sekarang ia telah berhasil menjadi seorang pengusaha sukses di bidang jasa.

Saat ditanya, bagaimana itu bisa terjadi, si pengusaha bercerita sambil bernostalgia. "Sebenarnya, pendidikan saya hanya SMP saja, itupun lulusan dari kampung. Saat diterima kerja sebagai pesuruh di kota besar ini, saya sangat senang sekali. Kata teman-teman di kantor, saya selalu bersemangat, murah senyum, dan siap membantu siapa saja yang memerlukannya. Bahkan bekerja lembur dan tidur di kantor pun, saya jalani dengan senang.

Tugas, yang pada mulanya hanya sebatas pesuruh, mengantar ini mengantar itu, menyediakan minuman, menyusun file-file, suatu hari meningkat menjadi pembantu adiministrasi saat ada anak kantor yang mengalami musibah dan tidak dapat menyelesaikan tugasnya, saya belajar mati-matian menggunakan komputer untuk membantunya mengetik.

Bos saya orang Jepang. Dan saya lah yang paling sering berada di ruangan bos, membantu dan menemaninya bekerja hingga malam hari. Perintah-perintah bos diucapkan dalam bahasa Jepang.

Pada awalnya saya tidak mengerti sama sekali. Dan, dari sanalah saya terpacu untuk belajar berbahasa Jepang. Karyawan dari Jepang yang bekerja di situ, sangat menghargai siapapun yang mau belajar bahasa mereka. Setiap hari, mereka mengajari sambil mentertawakan kebodohan saya jika salah dalam berucap kata. Oleh-oleh yang dibawa dari Jepang adalah buku-buku berbahasa Jepang yang saya minta.

Kira-kira empat tahun kemudian, tugas saya pun mengalami perubahan. Walaupun Tetap membantu serabutan, tetapi naik kelas menjadi asisten administrasi penghubung. Setiap ada tamu dari negeri sakura datang, saya yang menemani mereka menjadi penterjemah. Lama-kelamaan, saya dipercayai mengurus banyak hal, menghadap pejabat, menyampaikan pesan-pesan penting antar departemen dan sebagainya.

Sekian tahun kemudian, atas persetujuan dan bantuan Bos dan kepercayaan yang telah terbentuk selama ini, saya meminta izin untuk mengundurkan dan memulai usaha sendiri di bidang jasa, yakni mengurus berbagai perijinan hingga rekruting karyawan, khususnya untuk perusahaan Jepang yang hendak berinvestasi di Indonesia.

Bisnis saya bisa berkembang pesat seperti sekarang ini, tentu saja saya bersyukur atas semua ini, dan tetap belajar segala sesuatu agar bisnis saya terus berkembang dan berkembang.

Pembaca yang budiman,

Sebuah contoh proses perjuangan dari seorang karyawan yang biasa-biasa saja, sampai akhirnya bisa membangun usahanya sendiri dan sukses, namun semua itu tidak dia bangun dengan cara yang instan. Semasa masih menjadi karyawan, dia mau bekerja keras, jujur, dapat dipercaya, penuh tanggung jawab, dan mau belajar sesuatu yang baru serta pandai menempatkan diri sehingga kualitas karakternya yang positif itulah yang merubah nasibnya.

Sama halnya jika kita ingin berhasil. Mari kita mulai dari dimana kita berada saat ini. Belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, mampu menjaga sekecil apapun kepercayaan yang diberikan.

Begitu integritas kita terbangun, maka apapun yang kita tekuni, lambat atau cepat pasti akan mendapat tempat dan pasti kesuksesan demi kesuksesan akan segera datang menyusul.


By Andrie Wongso

Inspirasi - Konfusian: Menang tapi Kalah, Benar tapi Salah: 3 x 8 = 23



* Konfusian:: Menang tapi Kalah, Benar tapi Salah: 3 x 8 = 23

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik.
Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas,
dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang.
Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.
Pembeli berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24?"

"Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata:
"Sobat, 3x8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi".
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui
dan berkata: "Siapa minta pendapatmu?
Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius.
Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan!"

Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"
Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong
untukmu.
Kalau kamu yang salah, bagaimana?"
Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu".
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.

Setelah Confusius tahu duduk persoalannya,
Confusius  berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3x8 = 23.
Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia."
Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.
Ketika mendengar Confusius bilang dia salah,
diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.
Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.

Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat.
Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi
belajar darinya.
Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga.
Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.

Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat
kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat :
"Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."
Yan Hui bilang baiklah, lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir,
kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di
bawah pohon
tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir
untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu.
Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur.
Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti benar.

Apakah saya akan membunuh orang? bisiknya dalam hati.
Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu
tidur istrinya.
Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya.
Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi
kiri ranjang.
Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya.
Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius:
"jangan membunuh!"
Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya
adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata:
"Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"
Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan
turun hujan petir,
makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.
Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang,
maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".
Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."
Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga.
Kamu tidak ingin belajar lagi dariku.Cobalah kamu pikir.
Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan
jabatanmu.
Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah
dan itu berarti akan hilang 1 nyawa!
Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih
penting?"

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata :
"Guru mementingkan yang lebih utama,
tapi murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu."

Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita:
Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia,
tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya!
Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap kebenaran,
tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.

Banyak hal ada kadar kepentingannya.
Janganlah gara2 ngotot atau bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu,
tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.
Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertentangkan atau dipertaruhkan.
Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
(Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti itu!).

Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
(Saat penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti)

Bersikeras melawan suami. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
(suami tidak betah di rumah)

Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.
(Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman for good!)

Bersikukuh kita teguh jadi abu.



Cerita Inspirasi - Siapa yg memilih anakNya akan mendapatkan semuanya


Beberapa tahun yang lalu, ada seorang duda yang sangat kaya. Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat ia kasihi dan memiliki kegemaran yang sama dengannya yaitu mengkoleksi lukisan-lukisan terkenal. Mereka berkeliling dunia untuk mencari dan mengumpulkan lukisan-lukisan itu. Karya-karya tak ternilai dari Picasso, Van Gogh, Monet dan banyak lainnya menghiasi dinding rumah mereka. Duda itu sangat bangga dengan keahlian anaknya memilih karya-karya bermutu.

Ketika musim dingin tiba, perang melanda negeri mereka. Anak muda itu pergi untuk membela negerinya. Setelah beberapa minggu, ayahnya menerima telegram bahwa anaknya telah hilang. Kolektor seni itu dengan cemas menunggu berita berikutnya, dan ternyata yang dicemaskan terjadi, anaknya telah tewas ketika sedang merawat seorang temannya yang terluka. Keinginan untuk merayakan Natal bersama anaknya sirna sudah. Ia merasa sedih dan kesepian.

Pada hari Natal pagi hari, terdengar ketokan di pintu yang membangunkan orang tua itu. Ketika ia membuka pintu, seorang serdadu berdiri di depannya dengan membawa bungkusan besar. Serdadu itu memperkenalkan diri, "Saya adalah teman anak bapak. Saya adalah orang yang sedang diselamatkannya ketika ia tewas. Bolehkah saya masuk sebentar? Ada sesuatu yang ingin saya perlihatkan." Serdadu itu menuturkan bahwa anak orang tua itu telah menceritakan padanya kecintaannya, juga ayahnya, pada barang-barang seni.

"Saya adalah seorang seniman," kata serdadu itu, "dan saya ingin memberikan pada Anda barang ini." Dibukanya bungkusan yang dibawanya itu dan ternyata di dalamnya ada lukisan foto anak orang tua itu. Memang bukan karya yang sangat bagus dibandingkan dengan lukisan-lukisan yang telah dimilikinya. Tetapi lukisan itu cukup rinci menggambarkan wajah anaknya. Dengan terharu orang tua itu memajang lukisan itu di atas perapian, menyingkirkan lukisan-lukisan lain yang bernilai ribuan dolar.

Pada hari-hari berikutnya, orang tua itu menyadari bahwa walaupun anaknya tak berada lagi di sisinya ia tetap hidup dihatinya. Ia bangga mendengar anaknya telah menyelamatkan puluhan serdadu yang terluka sampai sebuah peluru merobek jantungnya. Lukisan foto anaknya itu menjadi miliknya yang paling berharga.

Pada musim semi berikutnya, orang tua itu sakit dan meninggal. Koleksi lukisannya akan dilelang. Dalam surat wasiatnya orang tua itu mengatakan bahwa lukisan-lukisan itu akan dilelang pada hari Natal, hari orang tua itu menerima lukisan yang paling disayanginya itu. Penggemar seni di seluruh dunia menunggu saat pelelangan itu.

Saat yang dinantikan itu pun tiba. Penggemar seni berdatangan dari berbagai penjuru dunia. Lelang dimulai dengan lukisan yang tak ada dalam daftar di museum di seluruh dunia, yaitu lukisan anak orang tua itu. Juru lelang bertanya, "Siapa yang akan mulai dengan penawaran?" Ruangan itu sunyi. Juru lelang melanjutkan, "Siapa yang akan mulai penawaran dengan $100?" Menit-menit berlalu dan tak ada seorang pun yang berbicara. Terdengar suara protes, "Siapa yang berminat pada lukisan tak bermutu itu? Itu hanya lukisan foto anak orang tua itu. Lupakan saja lukisan itu dan lanjutkan dengan lukisan-lukisan lain yang bermutu." Terdengar suara-suara yang menyetujui usul itu. "Tidak, kita harus menjual ini terlebih dahulu," kata juru lelang. Akhirnya, seorang tetangga orang tua itu berkata, "Bagaimana kalau saya menawarnya sepuluh dolar. Saya hanya punya uang sebanyak itu. Karena saya kenal baik anak itu, saya ingin memilikinya." Juru lelang itu bertanya, "Ada yang menawar lebih tinggi?" Kembali ruangan sunyi. "Kalau begitu saya hitung, satu, dua, . tiga, jadilah." Tepuk tangan terdengar riuh di ruangan itu, dan terdengar suara, "Nah, akhirnya kita sampai pada pelelangan harta yang sebenarnya." Tetapi juru lelang itu mengumumkan pelelangan telah selesai. Seseorang memprotes dan bertanya, "Apa maksud Anda? Di sini ada koleksi lukisan yang bernilai jutaan dolar dan Anda mengatakan telah selesai. Kita datang kesini bukan untuk lukisan anak orang tua itu. Saya ingin ada penjelasan." Juru lelang itu menjawab, "Ini sangat sederhana. Menurut surat wasiat orang tua itu, siapa yang memilih anaknya . akan mendapat semuanya."

Memang, pesan pada hari Natal itu sama seperti yang disampaikan pada kita selama berabad-abad: Kasih seorang Bapa pada Anak-Nya yang telah mengorbankan diri untuk menyelamatkan orang lain. Dan karena kasih Bapa itu, siapa yang menerima Anak-Nya akan menjadi ahli waris-Nya dan menerima seluruhnya.

Yohanes 1:12 - Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;

Galatia 4:7 - Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.

Diambil dari renungan harian CMN Bandung


Cerita Motivasi - INNOVATION WAR: NOKIA VS. BLACKBERRY

Demam Blackberry (Bb) di tanah air tampaknya kian tak tertahankan. Laju penjualannya terus melesat, dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan pengguna Bb tertinggi di dunia (!) Para pejabat RIM (Research In Motion) – produsen Bb yang berlokasi nun jauh di Ontario, Kanada sana – sampai tertegun-tegun, bahwa ada ledakan populasi pengguna Bb di sebuah negeri katulistiwa bernama Indonesia.

Dan kisah menjulangnya produk Blackberry itu dengan segera membuat produk smartphone keluaran Nokia seperti terpelanting, tercabik penuh luka. Jika tren ini terus berlanjut – dan banyak pengamat percaya ini akan terus berlanjut – masa depan produk smartphone Nokia niscaya akan tergolek dalam bayang-bayang kehancuran.

Syair dan kidung kematian mungkin masih terlalu pagi untuk dilantunkan. Namun, dalam perang inovasi yang brutal, everything is possible. Jika Nokia tak jua mampu mengelak, pendekar tangguh dari Finliandia ini bisa pelan-pelan tergeletak wafat dalam pusara kematian. Dan di atas batu nisannya, tercetak kalimat : Nokia - Rest in Peace. Who knows?

Semua kisah yang membawa kepiluan bagi Nokia itu berawal dari satu produk yang bernama Blackberry. Ada dua faktor utama yang berperan dalam melambungnya produk Bb ini. Yang pertama tentu saja adalah : produk yang inovatif dengan desain amat elegan. Teknologi email dan browsing-nya sangat user friendly, dan penempatan papan keyboardnya juga terlihat sangat pas (untuk seri Bold dan Curve). Desainnya juga sangat cantik nan menawan, membuat produk smartphone Nokia Communicator menjadi terlihat sangat jadul.

Faktor kedua, yang juga tak kalah penting, adalah apa yang dapat disebut sebagai "imitation effect". Tentu efek ini bukan khas Indonesia, namun lazim menghinggap pada benak para konsumen di berbagai penjuru dunia. Efek ini intinya begini : kalau orang laen pake Bb, gue mesti pake juga dong. Sebab kalo gue ndak pake, gue bakal kelihatan ketinggalan jaman, gitu.

Efek semacam itu dengan segera akan menciptakan viral : atau promosi yang menyebar dengan sendirinya melalui jaringan para konsumennya. Efek semacam ini pelan-pelan bergerak seperti bola salju dan pada titik tertentu, akan menciptakan momentum ledakan penjualan. Gladwell menyebutnya sebagai tipping point : atau titik dimana efek viral itu melaju tak tertahankan.

 Dan persis efek semacam itulah yang dengan indah dimanfaatkan oleh produsen Bb. Mereka hampir tak pernah mengeluarkan biaya untuk iklan; sebab yang menjadi salesman produk mereka adalah ribuan penggunanya yang tersebar disetiap sudut kota. Dan asyiknya "ribuan salesman/salesgirl" ini tidak perlu dibayar. Namun seperti kita lihat : efeknya sangat dramatis bagi laju penjualan Bb. (Ini tentu berbeda dengan smartphone Nokia yang jor-joran mengeluarkan puluhan milyar untuk pasang iklan dimana-mana; namun hasilnya tak juga maksimal).

Menyadari serbuan Bb yang kian tak tertahankan, Nokia mencoba merilis seri E, yang merupakan rangkaian produk smartphone dengan beragam keunggulan. Namun sayang, laju penjualannya ndak seperti yang diharapkan. Inilah yang membuat pangsa pasar smartphone Nokia secara global kian tergerus (dari sekitar 49 % pada tahun 2006 menjadi 41 % pada tahun 2009 ini; sementara pangsa Bb melaju hampir tiga kali lipat, dari 7 % pada tahun 2006 menjadi 20% pada tahun 2009).

Tren diatas tak pelak telah membuat Nokia segera berbenah; sebab jika mereka terus gagal membalikkan tren itu, maka masa depan mereka benar-benar berada dalam kekelaman. Sebab pada sisi lain, secara global Nokia juga harus menahan laju produk dahsyat lainnya, yakni iPhone dari Apple yang juga terus menggerus pangsa pasar Nokia.

Serangkaian kisah diatas tampaknya kian menegaskan arti penting inovasi. Tanpa kecerdikan melakukan inovasi, setiap perusahaan – betapapun hebatnya – pasti akan terjungkal dalam semak-semak kehinaan. Perang inovasi memang sungguh brutal. Ia selalu akan meninggalkan para pecundang yang tak sigap merespon dinamika pasar. Pecundang semacam pasti akan selalu tersingkir, dan terkaing-kaing dalam lembah kenestapaan.

Sebab itulah, kita sungguh percaya dengan mantra ini : INNOVATION. How can you survive without it?

WRITTEN BY YODHIA ANTARIKSA



Cerita Inspirasi - Kenapa Harus Ke Gereja?

 
Cerita 1

Seorang Katolik menulis surat kepada Editor sebuah surat kabar dan mengeluhkan kepada para pembaca bahwa dia merasa sia-sia pergi ke gereja setiap minggu.

Tulisnya, "saya sudah pergi ke gereja selama 30 tahun dan selama itu saya telah mendengar 3000 khotbah. Tapi selama hidup, saya tidak bisa mengingat satu khotbah pun. Jadi saya rasa saya telah memboroskan begitu banyak waktu - demikian pun para pastor itu telah memboroskan waktu mereka dengan khotbah-khotbah itu."

Surat itu menimbulkan perdebatan yang hebat dalam kolom pembaca.
Perdebatan itu berlangsung berminggu-minggu sampai akhirnya ada seseorang yang menulis demikian: "Saya sudah menikah selama 30 tahun. Selama ini istri saya telah memasak 32.000 jenis masakan. Selama hidup saya tidak bisa mengingat satu pun jenis masakan itu yang dilakukan istri saya. Tapi saya tahu bahwa masakan-masakan itu telah memberi saya kekuatan yang saya perlukan untuk bekerja. Seandainya istri saya tidak memberikan makanan itu kepada saya, maka saya sudah lama meninggal."

Sejak itu tak ada lagi komentar tentang khotbah.


Cerita 2

Nenek Granny sedang menyambut cucu-cucunya pulang dari sekolah. Mereka adalah anak-anak muda - anak muda yang sangat cerdas dan sering menggoda nenek mereka. Kali ini, Tom mulai menggoda dia dengan berkata, "Nek, apakah nenek masih pergi ke gereja pada hari minggu?"
"Tentu!"
"Apa yang nenek peroleh dari gereja? Apakah nenek bisa memberitahu kami tentang Injil minggu lalu..?"
"Tidak, nenek sudah lupa. Nenek hanya ingat bahwa nenek menyukainya."
"Lalu apa khotbah dari pastor?"
"Nenek tidak ingat. Nenek sudah semakin tua dan ingatan nenek melemah.
Nenek hanya ingat bahwa ia telah memberikan khotbah yang memberi kekuatan, Nenek menyukai khotbah itu."
Tom menggoda, "Apa untungnya pergi ke gereja jika nenek tidak mendapatkan sesuatu dariNya?"
Nenek itu terdiam oleh kata-kata itu dan ia duduk di sana termenung.
Dan anak-anak lain tampak menjadi malu. Kemudian nenek itu berdiri dan keluar dari ruangan tempat mereka semua duduk, dan berkata, "Anak-anak, ayo ikut nenek ke dapur."

Ketika mereka tiba di dapur, dia mengambil tas rajutan dan memberikannya kepada Tom sambil berkata, "Bawalah ini ke mata air, dan isilah dengan air, lalu bawa kemari!"
"Nenek, apa nenek tidak sedang melucu? Air didalam tas rajutan....!?
"Nek, apa ini bukan lelucon?" tanya Tom.
"Tidak.., lakukanlah seperti yang kuperintahkan.
Saya ingin memperlihatkan kepadamu sesuatu."

Maka Tom berlari keluar dan dalam beberapa menit ia kembali dengan tas yang bertetes-teskan ..
"Lihat,nek," katanya. "Tidak ada air di dalamnya."
"Benar," katanya.
"Tapi lihatlah betapa bersihnya tas itu sekarang.
Anak-anak, tidak pernah kamu ke gereja tanpa mendapatkan sesuatu yang baik, meskipun kamu tidak mengetahuinya."


Cerita 3

KISAH NATAL

Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal sebagai sebuah takhayul belaka. Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang baik hati dan tulus, setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya terhadap orang lain. Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang diceritakan setiap gereja di hari Natal. Dia sunguh-sungguh tidak percaya.
"Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih," kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja.
"Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia.
Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya "

Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah malam di gereja.
Pria itu menolak untuk menemani mereka.
"Saya tidak mau menjadi munafik," jawabnya.
"Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang."

Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan.
Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar.
Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin.
Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.

Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini, pikir pria itu. Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka?
Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat.
Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam. Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut.
Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.

Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu.
"Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan," kata pria itu pada dirinya sendiri, "dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai saya.
Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman."

Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah. Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata, "Sekarang saya mengerti," bisiknya dengan terisak.
"Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia."

Saudaraku, sering kita mengalami kejenuhan untuk pergi ke gereja dan merasa tak ada gunanya, semoga cerita di atas ini bisa lebih meneguhkan kita akan pentingnya ke gereja.