Friday, January 29, 2016

Kisah Inspiratif - Tolak Ukur Kedewasaan Seseorang


Di sebuah toko mebel ada seorang tukang yang terlihat serius menggosok kayu untuk lemari. Ia menggosok terus-menerus.

Ketika amplas yang digunakannya telah habis sisi kasarnya, ia membuang dan menggantikannya dengan yang baru, sehingga kayu terlihat halus dan mengkilat.

Sebenarnya hidup kita ibarat kayu dan amplas, kita bagaikan kayu dan seseorang yang bersikap jahat dan selalu menyakiti diri kita ibarat sebuah amplas. Biarlah dia selalu menggesek, dan menyakiti kita. Sakit memang dan membuat kita terluka, tapi mari kita lihat sebuah kayu akan mengkilat ketika semakin digosok dengan amplas, bukan?

Seperti itulah diri kita sebenarnya, hati kita akan berkilau karena kesabaran atas rasa sakit yang kita tanggung. Jika tiba saatnya nanti, kita akan menjadi berkilau dan seseorang yang menyakiti kita akan menjadi terbuang dan tak berguna seperti sebuah amplas yang kehilangan fungsinya untuk menghaluskan.

Mari kita belajar menjalani hidup ini seperti kayu dan amplas, karena semuanya itu merupakan sebuah proses untuk kita mendewasakan diri.

Usia seseorang belum tentu menjadi tolak ukur kedewasaan seseorang.

Kisah Inspirasi - Apakah Anda Keluarga Tuhan?

Pada suatu malam yang dingin di bulan Desember, seorang anak kecil bernama Johny, kira-kira berumur 10 thn, berdiri di depan sebuah toko sepatu dengan telanjang kaki.

Dia mengintip ke jendela toko sambil menggigil kedinginan. Tiba-tiba seorang wanita mendekati Johny, "Anak kecil, apa yg sedang kamu perhatikan di jendela itu?"

"Aku sedang meminta kepada Tuhan supaya memberiku sepasang sepatu baru."

Kemudian wanita itu memegang tangan Johny dan & membawanya masuk ke dalam toko. Ia meminta pegawai toko untuk membawakan setengah lusin pasang kaus kaki untuk Johny. Setelah itu, ia bertanya kepada pegawai toko apakah bisa memberikan sebaskom air hangat dan handuk untuknya.

Pegawai toko segera memberikan apa yang diminta oleh wanita itu. Wanita itu kemudian membawa Johny ke bagian belakang toko, melepaskan sarung tangannya, berlutut, membasuh kaki Johny yang  kecil itu dan mengeringkannya dengan handuk.

Sesaat kemudian pegawai toko datang dengan membawa beberapa kaos kaki. Wanita itu memakaikannya pada kaki Johny, ia juga membelikan Johny sepasang sepatu.

Dia mengikat sisa kaus kaki yang lain dan memberikannya kpd Johny. Ia menepuk kepala Johny dan berkata, "Tak usah khawatir, kamu akan merasa lebih nyaman sekarang."

Pada saat wanita itu hendak pergi, si Johny kecil yang masih terheran-heran itu menarik tangannya dan memperhatikan wajahnya.

Dengan berderai air mata karena terharu, Johny berkata, "Apakah Anda keluarga Tuhan?"

Wanita itu sungguh terharu. Matanya berkaca-kaca sampai tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

Kita semua adalah ciptaan Tuhan. Apakah setiap pikiran, ucapan dan tindakan kita bisa menuntun orang lain untuk bisa melihat dan merasakan bahwa ada Tuhan dalam hidup kita?

Mungkin Tuhan ingin memakai kita untuk menjawab doa seseorang. Maka kendalikanlah hidup kita.

Hasilkan semua yang bisa kita hasilkan. Simpan semua yang bisa kita simpan. Berilah semua yang bisa kita beri. Niscaya hidup kita akan berlimpah sukacita dan kebahagiaan

Kisah Inspiratif - Akan Indah pada Waktunya

Puluhan tahun yang lalu satu, sebuah keluarga mengalami kecelakaan mobil yang sangat fatal. Suami dan isteri meninggal seketika di tempat kejadian sementara anak mereka, namanya Chen yang berumur 11 tahun sedang dalam kritis. Akhirnya Chen pun tinggal sebatang kara dengan status yatim piatu.

Setelah semua dokumen dan arsip dicek, nyata diketahui bahwa keluarga ini mempunyai hutang kepada rentenir sekitar 45 juta. Rentenir yang tidak punya hati dan perasaan ini hanya memikirkan hak dan keuntungannya. Pada saat itu hanya dua yang tersisa; rumah dan Chen sebatang kara.

Dengan lancang rentenir itu mengatakan, "Aku hanya mau rumah dan bukan anak ini yang sulit mengurus nantinya."

Nasib tragis pun "menemani" Chen. Ia telah kehilangan orang tercintanya dan kini kepunyaan terakhir pun lenyap. Sebuah keluarga yang sederhana bersedia menampung dan memelihara Chen, sekurang-kurangnya tamat SMP. Maka mulailah Chen dengan hidup yang baru. Ia mulai menemukan spirit hidup seiring dengan kasih sayang, perhatian, sapaan dan pelukan dari keluarga keduanya ini. Chen pun tumbuh dengan baik, normal bahkan lebih dewasa. Ia mempunyai rasa tanggung jawab; belajar keras dan disela waktu ia juga membantu orang tua angkatnya ini di ladang. Selain mempunyai otak yang brilian, Chen juga mempunyai suara yang bagus dan indah.

Beberapa tahun kemudian bencana yang tidak diundang dan diharapkan melanda Cina. Tepat pada tahun 1976 Tsunami dahsyat menghantam Tangshan (Cina) yang menewaskan puluhan ribu. Di samping itu ribuan orang hilang entah ke mana. Tak seorang pun tahu apakah mereka masih hidp atau meninggal. Chen adalah salah satu yang dilaporkan hilang. Keluarga ini meratapi nasibnya, mereka menangisi harta yang lenyap dan terutama mereka menyesali kehilangan anak tercintanya, Chen. Mereka pun menata hidup lagi mulai dari nol.

Beberapa tahun kemudian sang ibu mempunyai firasat bahwa Chen tidak meninggal melainkan masih hidup. Ia yakin Chen akan kembali ke tengah-tengah keluarga. Kalau orang bertanya kenapa ia yakin bahwa Chen masih hidup, ia hanya menjawab sederhana, perasaan dan firasatku mengatakan demikian. Maka Ia selalu berdoa, "Ya Allah Engkau tahu apa yang terjadi atas Chen. Kalau ia masih hidup, dan saya yakin dia masih hidup, tunjukkan dia kepadaku."

Setahun kemudian, tepat pada suatu malam mereka sedang menonton televisi bertajuk artis dan lagu. Tiba-tiba mereka melihat sosok yang rada-rada tidak asing di televisi. Spontan, ibu itu berteriak, "Itu anakku.... anakuku…. Chen.

Suaminya menimpali, "Bukan…. itu bukan Chen.

Namun wanita itu tidak peduli, "Ia anakku…. Chen," sambil berurai air mata Ia pun menghaturkan syukur, "Tuhan makasih akhirnya Engkau menjawab doaku. Engkau menunjukkan anakku kepadaku."

Sebelum tampil bernyanyi, Chen menyapa para hadirin. Dan dengan lebih semangat ia menyapa, "Keluargaku, ibuku dan ayahku yang hilang dan berpisah karena tsunami, kalau kalian masih hidup, dan saya yakin kalian masih hidup, saya mau mengatakan, ini aku anakmu Chen. Aku masih hidup... dan kita akan bertemu segera."

Ia seolah menjawab ibunya dan meyakinkan ayahnya. Suami isteri ini pun larut dalam tangisan suka cita. Akhirnya keluarga ini dipertemukan kembali dalam kasih, sukacita dan kebahagiaan. Kini Chen telah menjadi artis terkenal, kaya. Kini Chen telah memilki semuanya, terutama keluarga tercintanya.

"Akan indah pada waktunya" jelas mewarnai perjalanan keluarga itu dan Chen. Pengalaman pahit, kehilangan keluarga, bencana alam, tangisan adalah "menu" hidup yang senantiasa memenami mereka. Tetapi perjuangan disertai dengan doa dan harapan telah membawa keluarga ini kepada kebahagiaan.

"Indah pada waktunya" juga akan menjadi milik kita bila kita tetap memiliki harapan, semangat, doa, dan sikap optimis. Tuhan punya rencana baik dan keajaiban bagi kita.

Kisah Inspirasi - Ketika Kita Lahir

Seorang Guru mengajar murid-muridnya tentang kesia-siaan hidup dan realitas kematian. Ia menemukan bahwa sebagian besar dari mereka takut mati. Maka ia menceritakan sebuah kisah seperti berikut ini.

Alkisah, ada kapal karam dan empat anggota keluarga berusaha untuk menyelamatkan diri dengan berpegangan pada kayu dari kapal yang hancur. Gelombang membawa mereka ke sebuah pulau terpencil. Keempat orang yang terdampar itu memeriksa pulau dan memulai hidup baru mereka dengan menggunakan sumber daya yang tersedia di pulau terpencil itu.

Bulan demi bulan berlalu. Suatu hari, seorang asing mengunjungi pulau itu dengan perahu kecil dan mengundang sang ayah untuk menemaninya ke tanah yang aman dan bahagia. Semua orang ingin naik perahu, tapi orang asing itu mengatakan bahwa hanya ada satu ruang untuk satu penumpang di perahu itu. Ia menghibur mereka dan mengatakan bahwa ia akan segera kembali dan membawa yang lain juga.

Satu bulan kemudian, orang asing itu kembali lagi dengan perahu yang sama dan membawa sang Ibu. Ia berjanji untuk kembali lagi membawa anak-anak ke tanah yang dijanjikan. Orang asing itu tiba satu hari kemudian dan membawa anak sulung pergi. Anak bungsu yang ditinggalkan sendirian merasa sedih dan ia ingin menemani saudaranya, tetapi orang asin gitu menolak untuk membawa anak bungsu itu bersamanya. Ia berjanji bahwa ia akan segera kembali untuk membawanya. Akhirnya orang asing itu datang kembali dan membawa anak bungsu itu ke tanah yang dijanjikan penuh perdamaian dan kemakmuran.

Guru bertanya pada murid-muridnya moral dari kisah tadi. Namun semua muridnya tidak menjawab. Karena mereka tidak bisa menjawab, Guru menjelaskan perumpamaan itu sendiri.

Pulau itu adalah dunia di mana setiap orang berhak untuk hidup selama jangka waktu tertentu. Orang asing itu adalah "kematian" yang tiba pada saat-saat yang tak terduga dan membawa pergi jiwa kita ke surga yang disiapkan bagi orang benar oleh Sang Pencipta. Dunia adalah tempat penampungan sementara untuk kehidupan yang tak berujung kebahagiaan di rumah kita yang sebenarnya. Kematian tiba pada saat terakhir dari kehidupan seseorang dan mungkin hanya membawa satu jiwa pada suatu waktu. Yang lain tertinggal di bumi dengan harapan bahwa suatu hari mereka juga akan demikian. Perahu mewakili peti mati yang membawa orang mati ke kuburan dan jiwa berangkat ke surga. Mari kita mempersiapkan diri untuk menerima kematian, orang asing yang membawa kita ke hidup yang lebih baik, dunia tanpa kekhawatiran.

Para murid merasa tercerahkan dan kehilangan rasa takut mereka akan kematian untuk selama-lamanya. Dikatakan bahwa ketika kita dilahirkan, kita menangis, dan orang-orang di sekitar kita bersukacita. Ketika kita mati, orang lain menangis, dan jika kita benar, maka kita bersukacita.

Kisah Inspirasi - Kisah Cinta yang Tidak Tulus

Alkisah, seorang pria sedang menonton konser. Seorang gadis cantik bernyanyi dengan suara indah yang menarik perhatiannya.

Gadis itu bernyanyi dengan suara merdu yang pernah didengarnya. Gadis itu mengenakan gaun putih yang indah dan mengenakan kacamata hitam, dengan gayanya yang alami. Di keremangan cahaya, gadis anggun itu bagaikan malaikat turun dari surga.

Pria tu mengamati gerak-gerik yang indah dan mempesona dari gadis itu yang seolah-olah dalam mimpi. Ia menghubungi bagian Orkestra dan mengetahui bahwa nama gadis itu Nisha. Ia berbicara dengannya secara langsung lelalui telepon. Dengan nada gembira, pria itu mengatakan betapa ia memuja wajah anggun gadis itu, pakaiannya yang menarik, senyumnya yang indah, tariannya yang menyenangkan, dan suaranya yang merdu. Pria itu mengatakan bahwa ia jatuh cinta dengan gadis itu dan tidak bisa hidup tanpanya, dan bertanya apakah gadis itu setuju untuk menikah dengannya. Pria itu mengatakan bahwa ia akan datang untuk bertemu dengan gadis itu secara pribadi pada hari berikutnya.

Gadis tu kagum, terkejut, dan bingung mendengar kata-katanya. Ia menjawab dengan tenang, "Lihat, saya gadis yang sangat miskin, dan apalagi….." Pria itu tidak mengizinkan gadis itu untuk menyelesaikan kalimatnya. Ia mengatakan bahwa ia tahu segalanya tentang gadis itu dan keputusan untuk menikahi gadis itu sudah final.

Gadis itu pun membicarakan lamaran pria itu kepada teman-teman dan kerabatnya. Mereka mendorong ia untuk menerima lamaran pria itu seperti yang telah dikatakannya bahwa pria itu tahu segalanya tentang gadis itu. Maka, tak sabar gadis itu menunggu pria yang melamarnya.

Membawa sepasang kacamata hitam yang paling mahal untuk diberikan kepada gadis itu sebagai hadiah, pria itu datang ke tempat tinggal gadis itu, berpakaian bak seorang pangeran. Ia bertemu dan memberikan hadiah itu kepada gadis itu dengan mengucapkan kata-kata yang penuh kekaguman dan semangat. Gadis itu membuka bungkusan dan memutuskan untuk memakai sepasang kacamata baru di depan pria itu. Gadis itu melepas kacamatanya sendiri dan pria itu tertegun serta terkejut ketika melihat bahwa gadis itu tidak memiliki mata sama sekali! Hanya ada dua cekungan kecil di wajahnya, menunjukkan kebutaan total. Ketertarikannya, apresiasi, dan kekagumannya, lenyap dalam hitungan detik. Pria itu  bergegas keluar dari ruangan dan menghilang tanpa kata, meninggalkan gadis itu dalam keadaan bingung.

Cinta pemuda itu tidak benar atau tulus. Ia justru memperlihatkan beberapa cacat dalam kepribadiannya, karakter, dan perilakunya. Ia membuat sebuah keputusan penting dalam hidupnya tanpa pemikiran dan analisis. Ia memberi janji kepada seorang gadis miskin yang tidak bisa dijaganya. Cintanya itu hanya obsesi yang belum matang karena keglamoran fisik gadis cantik. Keputusan impulsif dapat menyebabkan bencana. Mencari kehendak Tuhan dengan doa yang khusuk dapat memperbaiki keputusan. Jika kita bersedia untuk mengikuti kehendak-Nya, maka Ia akan membuat-Nya menjadi jelas bagi kita.

Kisah Inspirasi - Ketika Iri dan Permusuhan Menyelimuti Hati

Theagenes dari Thasos adalah seorang atlet terkenal, juara tinju, Pankration, dan lari di Yunani kuno. Ia berbakat dengan kekuatan dan kecepatannya yang luar biasa. Dia menjadi pemenang Olimpiade di tinju tahun 480 SM dan Pankration tahun 476 SM. Ia juga mendapatkan banyak kemenangan di beberapa pertandingan dan permainan atletik nasional dan internasional.

Ketika ia meninggal, orang-orang dari Thasos mendirikan patung perunggu besar Theagenes di pusat kota sebagai peringatan abadi terhadap atlet itu. Pausanias, seorang wisatawan Yunani dan penulis, meriwayatkan sebuah cerita tentang patung tersebut.

Suatu saat, seseorang di Thasos tidak bisa mengalahkan rekor Theagenes, bahkan dalam pertandingan apapun. Ia menjadi sangat iri pada Theagenes dan sebagai tindakan balas dendamnya, ia biasa datang ke patung Theagenes setiap malam dan mengekspresikan kebenciannya dengan memukuli dan  mencambuki patung itu.

Suatu malam, saat ia mencambuki patung itu dengan kasar dan mungkin menggali tanah di sekitar patung itu, dengan maksud buruk, ternyata patung itu jatuh menimpa orang itu dan membunuhnya. Keesokan paginya, orang-orang dari Thasos menyaksikan adegan tragis itu. Pria itu menjadi korban iri hatinya sendiri.

Kisah tadi menggambarkan bagaimana kita dimabukkan oleh perasaan sendiri akibat persaingan dan iri hati. Orang sering menjadi "gila" ketika melihat orang lain dalam posisi yang lebih baik atau kemampuan yang lebih baik. Lalu dipikirkan bagaimana upaya mengungguli orang lain dan membalas dendam. Padahal ini akan menyebabkan kerugian dan bencana.

Kita harus mengakui keterbatasan kita dan menghormati prestasi orang lain. Ini adalah cara mudah untuk menjadi sehat, bahagia, dan suci.

Kisah Inspirasi - Nasib Sebuah Layang-layang

Seorang anak laki-laki sedang menerbangkan layang-layang berwarna-warni di ruang terbuka di hari yang berangin. Dengan hati-hati dan terampil ia mengayunkan benang yang melekat pada layang-layang, sehingga bisa naik dari tanah.

Angin kencang mengangkat layang-layang ke ketinggian angkasa. Anak laki-laki itu senang layang-layangnya melambung ke langit. Teman-temannya menyaksikan aksinya dengan heran.

Seekor burung kecil tertarik dengan gerakan layang-layang itu. Burung itu menantang layang-layang untuk lomba mencapai ketinggian yang paling tinggi. Layang-layang itu diam-diam mengikuti burung tetapi hampir diam saja pada ketinggian yang sudah stabil. Burung itu terbang kembali untuk mengetahui penyebab berhenti yang tak terduga dari layang-layang itu. Burung itu terkejut ketika melihat ternyata layang-layang itu ditarik oleh anak laki-laki yang menggunakan benang yang diikat pada layang-layang.

Sepertinya burung itu tidak menyadari bahwa memang demikianlah layang-layang itu bisa menaiki angkasa dan mencapai kestabilan. Burung itu mengira bahwa layang-layang itu terjebak dalam perangkap dan anak laki-laki itu mencoba untuk menangkap layang-layang itu.

Burung itu pun memutuskan untuk menyelamatkan layang-layang dari penderitaan. Lalu ia menghentak benang dengan gigitan tajam dari paruhnya dan membuat layang-layang itu terbang bebas. Tapi layang-layang kehilangan keseimbangan, kontrol, dan stabilitas. Ia pun turun secara bebas mengikuti angin dan gravitasi, dan akhirnya mendarat di pohon yang tinggi. Burung itu terkejut melihat layang-layang terjerat di cabang-cabang pohon. Ia berteriak keras, mengajak layang-layang untuk melanjutkan balapan. Melihat tidak ada respon, burung itu meninggalkan tempat kejadian, bertanya-tanya tentang nasib layang-layang.

Tarikan pada benang adalah kekuatan pendorong di balik pendakian layang-layang ke langit dan stabilitasnya. Tetapi untuk orang yang bodoh, benang mungkin menjadi penghambat kemajuan layang-layang. Kondisi yang merugikan dalam kehidupan memiliki peran yang sama dalam membentuk kepribadian kita. Dikatakan bahwa kesulitan adalah pengalaman terbaik bagi pendidikan dan latihan kita.

Hidup kita distabilkan oleh tarikan beberapa benang. Ajaran agama kita dan Kitab Suci kita, bisikan hati nurani untuk mengikuti jalan yang benar, petunjuk dari orangtua, guru, dan lainnya, adalah benang yang membuat kita dalam keadaan stabil secara fisik, mental, emosional, dan spiritual. Mari kita belajar bahwa ini bukan ikatan yang membatasi kebebasan atau rintangan untuk kemajuan kita. Mereka sangat penting untuk kelancaran dan kelanjutan kita demi mencapai kesempurnaan dan kesucian.

Kebebasan bukanlah hak untuk berbuat sekehendak hati kita, namun kebebasan untuk melakukan apa yang harus kita lakukan. Aturan dibingkai untuk membuat kebebasan kita penuh dan adil. Pengorbanan sukarela dari hak-hak pribadi adalah dasar dari kehidupan sosial yang damai. Tidak ada kebebasan tanpa batasan, tidak ada kebebasan tanpa tanggung jawab. Perintah-perintah Tuhan dan hukum-hukum negara kita tidak membatasi kebebasan kita, tetapi membuat kebebasan kita menjadi nyata.